Tingkat Pendidikan Calon Suami, Pentingkah?

By Dunia Kifa - March 02, 2022

 Bagi perempuan sebelum menikah, kebanyakan tingkat pendidikan calon suami adalah salah satu pertimbangan penting dalam memilih calon terbaik. Tidak hanya bagi sang gadis, hal ini umumnya juga termasuk dalam salah satu kriteria calon menantu yang ditetapkan oleh orang tua. 

Anak gadisnya sarjana, kalau bisa dapat menantu lulusan S2. Anaknya berkecimpung di dunia kesehatan, ingin menantunya dari militer. Di daerah tertentu, calon suami terbaik adalah dia yang mampu "membayar" Paling mahal. Tentu tidak semua demikian, kembali pada standar dan selera masing-masing. 

Jika ditelisik lebih lanjut, sebenarnya fenomena ini cukup menarik. Apakah benar bahwa gadis dengan titel sarjana harus menikah dengan lelaki yang minimal juga sarjana? Apa jadinya jika dia menikah dengan lelaki tamatan SMA, misalnya? Apa saja pengaruh yang mungkin muncul jika mendapat pasangan yang pendidikannya di bawah perempuan? 

Pertanyaan di atas mungkin banyak menghantui perempuan yang hendak menikah ketika memilih calon suami. Apalagi ternyata yang tampak serius tingkat pendidikannya lebih rendah. Makin bingung gimana ngomongnya ke orang tua? 

Sebuah diskusi kecil dengan salah satu teman malam ini membuat saya berpikir panjang. Tentang kriteria calon suami, memilih diantara pilihan yang muncul, bagaimana nanti menyampaikan kepada orang tua, dan sebagainya. Apakah ini pertanda secara mental saya semakin siap untuk melangkah ke pernikahan? 

Persepsi Dasar Kriteria Calon Suami

Orang bilang, kriteria utama calon pasangan adalah yang sekufu. Artinya setara, yang bisa dimaknai dari banyak sisi. Setara bisa berarti sepadan dalam hal pendidikan, kemampuan ekonomi keluarga, jabatan, atau yang paling sederhana sekaligus bersahaja adalah: level iman. 

Pada praktiknya, tentu tidak mudah menentukan level iman diri sendiri, apalagi seseorang lain yang belum kenal betul. Bagi saya pribadi, ada beberapa hal yang bisa dijadikan tolok ukur, apakah seseorang layak menjadi pasangan terbaik, atau berpotensi menjadi biang masalah di kemudian hari. Berikut kriteria dasar yang menurut saya harus ada dalam diri calon suami:

1. Sayang sama anak-anak

Lelaki yang mampu bersikap lembut kepada anak adalah pertanda bahwa nanti ia juga akan menyayangi anaknya. Jika pada anak orang saja dia bisa bersikap lembut, apalagi kepada anak sendiri? 

Memang fitrah manusia adalah senang dengan anak. Sesuai dengan firman Allah dalam Q. S. Ali Imran ayat 14:

Dijadikan terasa indah dalam pandangan manusia cinta terhadap apa yang diinginkan, berupa perempuan-perempuan, anak-anak, harta benda yang bertumpuk dalam bentuk emas dan perak, kuda pilihan, hewan ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik.

Pada faktanya, ada juga lelaki yang tidak bisa bersikap lembut pada anak-anak, kan? Kalau mau tahu, perhatikan saja ketika dia dekat dengan anak kecil, apa yang dilakukan? Jika malah cuek atau menghardik, sebaiknya pikir-pikir lagi untuk memilihnya sebagai pasangan hidup. 

2. Sepakat kalau pendidikan anak bukan hanya tanggung jawab ibu

Hei, anak adalah buah cinta ayah dan ibunya. Bukan salah satu, bukan hanya anak ibu. Maka pendidikannya otomatis adalah tanggung jawab berdua. 

Lelaki yang baik sadar betul akan hal ini. Dalam komunikasi tentu bisa didiskusikan, jika ada lelaki yang memilih untuk menyerahkan sepenuhnya pendidikan anak kepada istri, tanpa mau ikut campur, hanya mau menyediakan nafkah saja, sebaiknya pikir lagi ya. Jangan sampai kelak anak kita kehilangan sosok ayahnya yang lebih memilih sibuk dengan pekerjaan atau dunianya sendiri. 

3. Mau ambil peran dalam keluarga, bukan type cowok ga mau tau kerjaan rumah

Ciri lelaki baik berikutnya menurutku adalah dia yang perhatian terhadap pasangannya. Bukan hanya ketika butuh, tapi pengertian ketika melihat pasangannya lelah, perlu dibantu menyelesaikan pekerjaan rumah, dan sebagainya. 

Tipe lelaki yang tidak mau tahu dengan pekerjaan rumah bisa disinyalir dibesarkan dengan kebiasaan manja dan serba enak. Tentu saja tipe seperti ini tidak salah, hanya saja hidup tidak selamanya enak, kan? Apa yang terjadi ketika bersamanya harus menghadapi masa sulit kehidupan, akankah ia mau bertahan? Rasanya kok sulit percaya, lelaki yang biasa dimanja bisa menghadapi situasi sulit dengan baik-baik saja. 

Maka sebagai perempuan yang belum menikah, saya memilih selektif pada lelaki. Tidak hanya memikirkan tingkat pendidikan calon suami. Tipe pekerjaan keras sekaligus memiliki naluri perhatian yang tinggi kepada pasangan tentu jauh lebih menarik daripada tipe lelaki terbiasa hidup manja meskipun lulus berkali-kali dari Perguruan Tinggi. 

4. Caranya marah nggak membahayakan diri dan orang lain

Marahnya lelaki jika diumbar bisa berbahaya. Baik dari lisannya atau tangannya, sama-sama berpotensi menimbulkan luka. Lelaki yang terbiasa memaki ketika marah, cenderung mudah melukai hati pasangannya. Sementara yang tangannya ringan saat marah, berpotensi menghabiskan perabotan rumah. 

Alangkah borosnya jika setiap kali marah ada perabot yang harus jadi korban. Mungkin jika benar demikian, bisnis menjadi juragan perabot bisa jadi pilihan! 

Perkara kriteria lainnya bisa disesuaikan dengan kepribadian masing-masing. Tentu saja kalau menunggu atau mencari yang sempurna, tidak akan pernah ada. Karena memang tidak ada pasangan sempurna, yang ada berusaha saling menyempurnakan. 

Tidak ada pasangan paling cocok, yang ada hanya saling mencocokkan. Sudah seperti puzzle, kan? Sebagai perempuan yang belum menikah, saya sedang berada di taraf mencerna teori² tersebut, berharap akan berguna jika saatnya tiba. 

Menilai Calon Suami

Lalu bagaimana caranya menilai calon suami, agar sesuai dengan kepribadian kita? Tentu tidak mungkin kita mengenal seseorang dalam sekejap. Meskipun mungkin saja keyakinan bahwa seseorang adalah pilihan terbaik bisa muncul dalam waktu singkat. 

Kita bisa menilai seseorang sebaik apa pertama dari hasil investigasi kepada sahabat, orang tua atau saudaranya. Cara ini sangat mungkin ditempuh jika kita kenal dengan misal adiknya, atau sepupunya, atau teman dekatnya. 

Kedua, amati perilaku  spontan yang mungkin muncul saat bersama. Misal ketika adzan berkumandang, apakah ia bersegera menunaikan sholat atau menunda? Saat akan membayar di kasir, ia berinisiatif menyelesaikan lebih dulu atau malah kabur? 

Ketiga, sikapnya terhadap uang. Apakah ia menganggap uang sebagai harta berharga, sehingga sering memperhitungkan pengeluaran dan stress dengan pemasukan, atau tipe orang yang menganggap uang sebagai salah satu wujud rezeki, yang kecil saja dunia di genggamannya. 

Bagi saya pribadi, lelaki harus kuat mental dan keuangannya. Bukan berarti pendapatan harus tinggi atau kaya, tapi bermental kaya itu penting. Supaya otak tidak menganggap diri sendiri miskin dan berimbas pada kenyataannya. 

Selebihnya, tentu masing-masing memiliki kriteria dan jalan berbeda untuk bertemu pasangan terbaik. Ada yang mempertimbangkan kepemilikan atas rumah, tabungan, kemampuan komunikasi dengan keluarga, dan sebagainya. Satu hal yang paling penting adalah, dia memilih kita dan kita yakin dialah calon terbaik untuk kehidupan masa depan. 

Mengajukan Calon Kepada Orang Tua

Jika ada 10 orang berkumpul dan bercerita tentang pertemuannya dengan pasangan, pasti semuanya memiliki versi cerita berbeda. Saya hampir yakin, milyaran manusia di bumi memiliki cerita dengan pasangan versi masing-masing. 

Terlepas dari betapa ribetnya memilih calon pasangan terbaik bagi perempuan, tingkat pendidikan calon suami diharapkan mampu mewujudkan kesetaraan yang diimpikan dari sosok bernama pasangan. Apakah berarti lelaki yang tingkat pendidikannya lebih rendah dari calon istrinya wajib mundur dari kursi pencalonan? Tentu tidak. 

Setiap pasangan pasti memiliki alasan untuk melanjutkan hubungan. Saya pikir setiap lelaki baik berkesempatan mendapat calon istri baik yang mau menerima apa adanya dirinya. 

Jika ingin orang tua menolak mendukung ketika  tingkat pendidikan calon suami di bawah perempuan, maka perlu ada negoisasi panjang dari banyak sisi. Yakinlah bahwa orang tua pasti menghendaki kebahagiaan anak. Manfaatkan fakta ini untuk membuat orang tua yakin bahwa pilihan kita adalah yang terbaik. 

Semoga Allah Ridha, ya...

Sungguh, jika telah bertemu dengan pasangan terbaik, maka segerakan pernikahan. Dia memilih kita, dan sebaliknya, kalau Allah belum ridha apa daya? Pernikahan hanya akan jadi catatan impian yang sulit menjadi kenyataan. 

 Jadi, seberapa penting tingkat pendidikan calon suami? Jika kita adalah tipe pengejar prestise, mungkin sangat penting. Berharap calon suami dengan tingkat pendidikan tinggi memiliki kemampuan komunikasi, kepemimpinan, daya pikir yang jauh lebih baik dari lelaki yang pendidikannya rendah. 

Sayangnya, fakta membuktikan bahwa tingkat pendidikan calon suami tidak selalu menunjukkan demikian. Ada lelaki tamatan SMA yang jauh lebih sopan, mampu bekerja lebih giat dan bertanggung jawab terhadap keluarga lebih baik dari lulusan sarjana. Kemudian setiap keyakinan akan pilihan terbaik, kembali pada nasib masing-masing. 

  • Share:

You Might Also Like

29 comments

  1. I like your post, keep posted regularly on daily basis. 바둑이사이트

    ReplyDelete
  2. I NEED TO TO THANK YOU FOR ONES TIME FOR THIS PARTICULARLY FANTASTIC READ !! I DEFINITELY REALLY LIKED EVERY PART OF IT AND I ALSO HAVE YOU SAVED TO FAV TO LOOK AT NEW INFORMATION IN YOUR SITE.
    고스톱

    ReplyDelete
  3. IT’S FANTASTIC TO UNCOVER ANYONE VERBALIZE THROUGH YOUR HEART AND AS WELL EXCELLENT ON THIS CRITICAL INTENDED THEME CAN BE EASILY VIEWED. THNAK YOU! 스포츠토토

    ReplyDelete
  4. THIS IS A GREAT POST, BE SURE TO KEEP WRITING MORE GREAT ARTICLES LIKE THIS ONE.
    성인웹툰

    ReplyDelete
  5. HELLO, THIS IS FIRST TIME VISITING YOUR BLOG BUT I APPRECIATE YOUR WORK, KEEP ADDING MORE. JUST TO INFORM YOU I WILL FOLLOW YOUR BLOG SO DON'T DISAPPOINT ME. THANKS
    토토사이트

    ReplyDelete
  6. It is always so lovely and jam-packed with a great time
    바카라사이트

    ReplyDelete
  7. Valuable info. Fortunate me I discovered your web site by chance. 스포츠토토

    ReplyDelete
  8. This is a fascinating subject and I hope to learn more about it in the future. 경마사이트

    ReplyDelete
  9. It is really a great and helpful piece of information. 슬롯머신

    ReplyDelete
  10. It is extremely nice to see the greatest details presented in an easy and understanding manner 토토

    ReplyDelete
  11. I appreciate your critical thinking. Great job! 홀덤

    ReplyDelete
  12. Congratulations on your terrific job. I will always keep that in mind. 슬롯머신사이트

    ReplyDelete
  13. Please visit also my website. Thanks in advance!! 바카라사이트

    ReplyDelete
  14. Nice blogg.. It's hard to find quality writing like yours nowadays. I honestly appreciate individuals like you! 룰렛사이트탑 토토사이트

    ReplyDelete
  15. That was an excellent article. You made some great points and I am grateful for for your information! Take care!
    스포츠토토핫

    ReplyDelete
  16. Interesting blog this. its quite informative article.
    토토사이트웹

    ReplyDelete
  17. I am regular visitor, how are you everybody? This paragraph posted at this website is genuinely fastidious. 슬롯머신777사이트

    ReplyDelete
  18. This is a correct weblog for anyone who wishes to be familiar with this topic. Wanna check out my blog? Just click here: 토토

    ReplyDelete
  19. Thanks for sharing this Blog with us your blog is very interesting if want more information topic about CASINO and SportsToto? Click here: 토토사이트

    ReplyDelete
  20. Such unbelievable information. I like the way clear up. Compassionately do check my blog. Best of luck!!! Check out my site: 파워볼게임

    ReplyDelete
  21. Really informative post. I personally thought the written post is well suited and trouble-free for me to go after provided guideline. Thank you for sharing~ visit this site to find out more: 안전놀이터

    ReplyDelete
  22. This is one of the best website I have seen in a long time thankyou so much. 안전놀이터

    ReplyDelete
  23. The info you provide on this site has helped me greatly. Thanks 카지노사이트

    ReplyDelete
  24. This was an incredible post. Really loved studying this site post. 온라인카지노

    ReplyDelete