Saudara Kandung, Sel Darahku yang Terbelah

By Dunia Kifa - August 09, 2021

  

Kakak adik
Tuban, Desember 2020

Delapan Agustus seperempat abad yang lalu, bayi lelaki seberat 3.4 kg lahir tepat saat adzan isya’ berkumandang. Tepat saat ayah membuka pintu kamar persalinan. Tepat saat peringatan Maulid Nabi Muhammad saw bergema di masjid dekat klinik tempat ibu dirawat. Karena itulah, ayah memilih nama Muhammad untukmu. Tepat mulai saat itu, statusku berubah menjadi “kakak”.

Tidak hanya status, banyak hal yang berubah setelah kelahiranmu. Ibu yang harus membagi perhatian, ayah yang semakin sibuk, nenek yang begitu sayang karena kau cucu pertamanya yang lahir di rumah besar ini. Ya, darahku dan darahmu tidak tumpah pertama kali di rumah yang sama. Aku lahir di rumah nenek dari ibu, sedangkan kau lahir di tempat ayah dibesarkan.

Baca juga: Sejarahku saat gejala Covid

Seiring pertumbuhanmu, aku semakin menyayangimu. Adik, seperti bintang kecil yang selalu bersinar, tampak jauh dari bumi, namun sebenarnya ia jauh lebih besar dari kemampuan kita melihatnya. Aku tahu, kita berbeda dalam banyak hal meskipun lahir dari rahim yang sama.

Saudara Sedarah

Lahir dari rahim yang sama, berarti bahwa kau terbelah dari sumber sel darah yang sama denganku. Jadi tubuhmu, memiliki bagian yang sama dengan tubuhku. Kita terhubung dalam DNA yang sama, kode penciptaan dari dua makhluk yang sama: ayah dan ibu. Persaudaraan sedarah memiliki sangat banyak dampak dalam hidup kita.

Engkau bukan orang lain, adikku. Engkau adalah bagian dari tubuh dan hidupku. Jadi sehebat apapun kita bertengkar, jangan pernah lupa bahwa kita berasal dari sumber sel darah yang sama. Semoga hal ini akan selalu mengingatkan kita bahwa persamaan sel darah tidak patut memicu perpecahan.

Persaudaraan karena pertalian darah, adalah satu-satunya hubungan yang tidak mengenal kata  mantan. Tidak ada kata putus, apalagi bekas saudara. Ikatan darah adalah pertalian yang tidak diikat dengan janji, tapi dengan darah yang mengalir dalam diri, lalu bagaimana kita bisa melepaskan diri dari ikatan itu? Tidak mungkin bisa, karena darah tak bida dipisah dari setiap diri yang berserah.

Baca juga: Cinta tak pernah tua

Apapun alasannya, sebesar apapun masalahnya, sejengkel dan semarah apapun hati kita, persamaan sel darah harusnya cukup menjadi alasan bahwa kita harus segera berdamai. Lihatlah ayah dan ibu, yang telah membuat kita tumbuh dan belajar di banyak tempat, bertemu dengan banyak orang. Betapa mereka ingin, anak-anaknya tumbuh menjadi manusia yang bijak dalam bersikap.





Pesan di Hari Lahir yang Berulang

Di hari istimewamu yang semakin dewasa, ingin kusampaikan beberapa pesan. Pertama, jangan pernah jadikan masalah harta duniawi sebagai alasan pertengkaran. Sungguh, kita sama-sama paham bahwa semewah apapun kehidupan dunia tak ada seujung kuku dibanding kehidupan akhirat. Maka untuk apa kita saling meributkan sesuatu yang sifatnya fana?

Kedua, mari terus belajar untuk saling tergantung. Ada banyak hal yang bagiku hanya bisa engkau yang membantu menyelesaikan, bukan orang lain. Pun bagimu, biar ikatan saudara kandung tetap erat, jangan pernah mengandalkan orang lain utuk hal-hal yang hanya bisa kubantu untukmu. Bukankah ayah dan ibu juga bahagia jika anak-anaknya terus saling menguatkan?

Bacalah: cara meredakan stres

Ketiga, mari terus belajar untuk ikhlas, mengikhlaskan apapun dalam kehidupan ini. Bukankah kita lahir dengan tangan kosong dan akan mati dengan tangan kosong pula? Bukankah kita tidak pernah benar-benar memiliki apa yang ada didunia ini, kecuali apa yang kita amalkan dan dermakan? Maka sungguh, kita tak pernah punya alasan untuk memiliki, maka ikhlaskan apapun yang terjadi

Keempat, ingatlah selalu bahwa kita tidak lahir dari orang tua yang kaya harta atau tahta. Bukan pula rupawan atau bangsawan. Kita adalah anak dari dua manusia biasa yang menjalani hidup dengan cara biasa. Maka jangan menggantungkan harapan masa depan pada kemampuan orang tua memberi kita bekal. Cukuplah bekal ilmu, pengetahuan, pesan, dan tauladan yang baik mengiringi cita kita.

Kelima, cukuplah menjadi “kita”. Tidak perlu menilai, iri, menjadi “orang lain” dalam perjalanan hidup yang harus kita tempuh, seburuk apapun keadaannya. Kita tidak perlu membandingkan hidup dan segala yang harus kita genggam atau jalani, dengan apapun yang terjadi pada orang lain. Ingatlah bahwa setiap kehidupan memiliki jalannya sendiri.

Keenam, bijaklah. Kita tidak perlu mengambil keuntungan dari kehidupan ini, kecuali bekal kebaikan menuju akhirat. Jangan sampai maksud baik kita, menimbulkan mudharat bagi orang lain. Jangan sampai niat tulus kita, menjadi penyebab orang lain berdosa karena prasangka atau semacamnya. Jika kita bisa mendapat pahala, maka usahakan sebanyak mungkin orang ikut mendapat pahala yang sama atau bahkan lebih dari yang kita dapat, itulah kekuatan hakikat.

Baca juga: Cara menikmati kekayaan

Terakhir, mari terus berusaha memelihara sifat baik, dan mengusir jauh sifat-sifat buruk, agar Allah ridha atas hidup kita. Usia yang semakin dewasa tidak selalu menjadi cermin kedewasaan pribadi, tetapi bisa menjadi tolok ukur seberapa besar upaya kita untuk menjadi prbadi yang lebih baik dari sebelumnya.

Jangan berhenti menjadi bintang kecil, adik yang baik, penyayang, dan teruslah tumbuh menjadi manusia yang disayang Allah. Kenyataan bahwa kita berasal dari rahim yang sama cukuplah menjadi alasan untuk menjaga persaudaraan sedarah ini tetap baik selamanya. Terima kasih sudah menjadi adikku, bintang kecilku, sekaligus penjaga yang baik untukku, semoga Allah selalu menyayangimu.

Ohya, satu lagi… segerakan selesia tesis, ya. Masa depan yang lebih indah dan berwarna menantimu.

  • Share:

You Might Also Like

1 comments

  1. MasyaAllah watabarakaAllah mbak sakifah, kyaknya wajib ditiru ni 😍

    ReplyDelete