Jangan Panik Saat Muncul Gejala Covid, Begini Cara Menghadapinya

By Dunia Kifa - July 30, 2021

 

gejala-covid

Tulisan singkat ini kususun berdasarkan pengalaman pribadi. Kalau kalian butuh rujukan dengan dasar ilmiah, maka sebaiknya berhentilah membaca dan berpindahlah ke jurnal penelitian. Ya, sebelum menyesal, karena tulisan ini dibuat tanpa studi laboratorium atau semacamnya, hanya untuk berbagi pengalaman.

Tanggal 17 Juli 2021 lalu, hari Sabtu malam, adalah awal dari semua drama dua pekan terakhir. Tiba-tiba, aku merasakan batuk karena tenggorokan gatal. Tidak ada tanda-tanda demam atau pusing sebelumnya. Ibu pikir, tenggorokanku hanya sedang manja karena sebelumnya sempat jajan kerupuk. Biasanya kami goreng kerupuk sendiri.

Hanya sesekali aku jajan, terutama jika sedang keluar bersam ateman atau saudara. Seperti ke warung Mbok Semah misalnya. Selebihnya, aku lebih suka diam di rumah, mengerjakan yang bisa dikerjakan, atau baca buku Cinta Tak Pernah Tua.

Sabtu malam itu aku tidur agak larut, antara tubuh yang sudah mulai tidak enak dan batuk yang semakin sering. Tidak ada rasa curiga ke Covid sama sekali. Mungkin karena saat itu belum tahu, tetangga sedesa beda gang sudah banyak yang merasakan gejala Covid, jadi masih santai.

Demam Dua Hari

Ahad siang keesokan harinya, wajah terasa sembab. Padahal nggak abis nangis, atau kelamaan tidur. Persendian juga mulai terasa capek. Siang masih ke masjid, dan nggak ketemu siapa-siapa. Masjidnya sepi emang, hehe..

Siang setelah dhuhur itu, demam mulai terasa. Maghrib ke masjid sempat bertemu tetangga, dia bilang aku pucat. Rasanya udah semakin nggak karuan dan hatiku mulai curiga, sejujurnya. Malam itu setelah makan  langsung buat minuman jahe+sereh+kunyit+lemon peras. Rasanya? Asam pedas, hambar karena tanpa gula.

Selain itu, ibu merebus kacang hijau dan airnya kuminum (ini sudah ditambah gula sedikit, jadi rasanya manis). Terakhir makan nasi siang hari, menjelang ashar. Itu pun sudah agak “maksa”, karena tubuh nggak ada nafsu makan. Malam cuma minum yang bermacam-macam itu tadi.

Jam 9 malam, demamku belum reda. Efek dari minuman rimpang mulai terasa. Sebentar-sebentar, pengen buang air kecil. Untung ada kamar mandi di dalam, jadi tidak terlalu jauh dari kamar. Setengah hingga satu jam sekali rasanya, pengen pipis dan jumlahnya tidak sedikit.

Ah, antara pusing karena ngantuk tapi nggak bisa tidur, demam, dan bolak-balik pengen pipis membuat rasanya nano-nano. Malam itu, praktis aku nggak tidur nyenyak. Hal paling sulit saat itu adalah mengungkap kecurigaan pada ibu.

Rasanya pengen banget bilang, “Bu, jangan-jangan ini gejala Covid. Tolong jangan dekat-dekat aku dulu, ya…”tapi yang keluar Cuma, “Bu, aku nggak papa, nggak usah dipijit.” Sementara ibu tidak mau mendengarku. Ya, ibu mana tega dan hanya diam melihat anaknya sakit, pucat, tak berdaya?

Senin pagi, demamku turun jauh. Rasanya sudah aman. Batuk masih tapi sudah jarang, masih kubantu minum jahe juga dicampur berbagai macam rimpang. Senin pagi itu dengan pakai masker dan jaket, aku masih sempat ke rumah tetangga sekitar satu jam. Ada pekerjaan yang harus kubereskan, jadi ya harus selesai saat itu.

Selesai dari rumah tetangga, suhu tubuhku naik lagi. Padahal Senin itu tanggal 9 Dzulhijjah. Aku sudah berniat puasa sejak shubuh. Ibu ingin melarang, tapi tahu aku bandel kalau sudah punya niat. Seandainya saat itu ayah tahu aku berniat puasa, pasti dimarahinya. Beruntung,, ayah hanya menyuruhku membuat susu, tanpa memastikanku sudah benar-benar makan dan minum atau belum.

Karena nggak kuat, Senin sekitar jam 10 itu aku minum susu, lalu istirahat. Ayah mendekat dan memeriksa tubuhku yang semakin demam. Setelah dipijit dan minum susu, aku memilih tidur hingga siang setelah dhuhur.

Sorenya, aku tetap aktivitas seperti biasa. Tidak ada pusing, hanya sedikit demam dan rasa melayang. Malam masih batuk, masih minum jahe yang kurebus bersama sere, bunga lwang, cengkeh dan kapulaga. Hei, Selasa esok paginya itu Idul Adha. Aku sudah berniat mengurung diri di rumah, tidak berangkat sholat jamaah.

Selasa pagi, tubuh agak berat untuk bangun. Sampai hari benar-benar terang, sekitar jam 6 kurang aku baru keluar kamar. Sholat tetap, tepat waktu ya… Cuma abis shubuh tergeletak lagi di tempat tidur, dingin plus malas.

Setelah bangun, aku bersiap memberi makan ayam, ibu dan ayah pergi ke halaman masjid untuk sholat id. Selesai mereka dari masjid, aku sudah hampir selesai membereskan rumah, mandi dan siap sarapan. Alhamdulillah, masih bisa makan nasi meskpun keinginan mencicip berbagai rasa sudah mulai hilang.

Sebelum ashar tiba, Tante ke rumah sama adek sepupu dan mbak yang dulu karyawan toko. Setelah makan, lalu ashar mereka pulang. Dalam hati aku sudah banyak berdoa, kalau benar ini gejala positif Covid, semoga tidak sampai menular ke siapapun.

Rupanya feeling-ku semakin kuat, saat maghrib tiba kucoba mencium wangi sabun, sama sekali tdak terdeteksi. Lalu kucoba mencium wangi minyak kayu putih, hanya pedas/mint-nya yang terasa. Selanjutnya, bau apapun tidak terdeteksi di hidungku. Baik, gejala makin kuat. Aku mengkhawatirkan ibu.

Selama ini, kontakku paling erat adalah ibu. Ayah hanya sesekali berpapasan, atau makan bareng terpisah meja sekitar 1 meter. Panik? Sejujurnya iya, tapi apa panik bisa menyelesaikan masalah? Aku mencoba tetap logis dan tenang. Kalaupun benar ini Covid, bismillah bisa melewati semuanya.

Apa Perlu Tes Covid?

Rabu siang, ibu mulai demam. Baik, satu lagi kekhawatiranku bertambah. Bukan aku takut mati saat isoman (Hei, bayang kematian saat bergejala Covid itu nyata, lho), tapi aku khawatir ibu bergejala sedang hingga berat. Kucoba pelan-pelan menawarkan kepada ibu untuk swab, tapi ditolaknya.

“Nggak mau, nanti kalau beneran positif malah orang-orang takut sama ibu.” Alasan yang sungguh uwuw, kan? Padahal kalau positif, kita jadi tahu bagaimana harus bersikap. Tidak seorang pun ingin dipasang oksigen atau ventilator.

Tindakan pencegahan tentu harus dilakukan supaya ibu tidak semakin parah. “Baiklah Bu, kalau nggak mau tes, mari melalui semua ini dengan sepenuh doa dan pasrah padaNya.” Aku meminta ibu makan tepat waktu, dengan lauk bervariasi. Karena nutrisi itu bukan sekadar tentang jumlah, tapi kualitas makanan. Olahraga dan berjemur juga harus, meskipun dengan kepala setengah melayang.

Ibu nggak nafsu makan, tapi kupaksa tiap waktunya tiba. Kusiapkan berbagai cemilan: pisang kukus, roma kelapa, madu, apapun yang kira-kira bisa menjadi sumber energinya tanpa menumpuk percuma di dalam tubuh. Termasuk air mineral, harus cukup masuk ke tubuhnya.

Untung pas idul adha, stok daging nggak perlu beli. Alhamdulillah, sejauh ini ayah juga aman, jadi minimal ada yang bisa belanja jika terpaksa. Stok sayuran dan apapun yang ada di kebun, alhamdulillah bisa dipetik. Maka nikmat Tuhan yang mana pantas kudustakan? Tidak ada.

Asupan vitamin C terpenuhi dari jeruk buah yang tinggal petik depan rumah, atau lemon yang bergelantungan mulai menguning di depan dan samping rumah. Stok beras aman. Kadang bude yang rumahnya berjarak sekitar 50 meter tiba-tiba mengirim makanan plus lauk lengkap.

Teman sekaligus tetangga dan adek juga tiba-tiba mengirim bubur ayam ke rumah. Mungkin karena jarang jajan, aku tidak ingin makanan bermacam-macam, jadi ya pas sakit nggak repot pengen jajan ini itu. Kala ada ya dimakan, enggak ya nggak papa, udah biasa.

Syukurku Selama Sakit

Sungguh, rasa sakit adalah peringatan agar diri semakin banyak bersyukur. Karena sakit ini telah menunjukkan betapa nikmat saat sehat, sering kita abaikan begitu saja. Sakit juga menjadi penggugur dosa. Maka setiap nyeri, pusing, dan rasa tidak enak yang menyertai adalah rangkaian ketetapanNya untuk menghapus dosa kita.

Maka aku tidak punya alasan untuk mengeluh, baik di status atau komunitas. Mungkin tak ada yang menyangka juga kalau aku beneran sakit saat itu. Beberapa yang tahu dan percaya, mengirimkan doa dan semangat agar cepat sembuh. Alhamdulillah, doanya sangat bermanfaat mempercepat kesembuhan, terima kasih, ya.

Syukurku, mungkin tak seberapa dibanding dengan nikmatNya yang tiada tara. Masih bisa merawat ibu, memenuhi apa yang diinginkan dan dibutuhkannya, adalah nikmat luar biasa. Berapa banyak teman yang harus kehilangan orang tua di masa pandemi ini? Sungguh, masih bisa bersama orang tua dan memenuhi segala hajat mereka adalah nikmat.

Syukurku, harusnya tak terbatas oleh belenggu nafsu, “Kenapa sakit ini terasa lama?” Hei, sepuluh hari sejak gejala pertama, kondisiku jauh lebih baik. Masih ada batuk yang kadang menyapa. Masih ada rasa lelah yang cepat sekali hinggapnya. Lepas dari itu, aku tidak perlu mengerjakan sholat dengan duduk atau berbaring. Bukankah ini nikmat?

Tidak seharipun kulewatkan tanpa tilawah Al Qur’an, meskipun murajaah hanya sebisanya, sekuatnya. Ini adalah sebagian kecil dari syukurku yang sekaligus menjadi pengingat, “Seandainya dengan perantara sakit ini Allah berkenan memanggilku, semoga catatan amal baik berjalan mengiringi, bukan menjauh dari diri.”

Aku beruntung, Allah memberi kesembuhan untukku dan ibu. Meskipun pada Jumat dan Sabtu malam ibu bercerita sempat mengalami sesak. Aku yang baru tahu pagi harinya merasa kecolongan, “Mengapa semalam tak kutemani saja ibu tidur di kamarnya? Bagaimana jika … “ Tapi ibu memang menolak ditemani. Alasannya, khawatir aku tidak bisa tidur karena sudah terbiasa sendri. Ayah tidur di kamar depan.

Sampai saat ini, ibu masih rutin minum madu pagi dan sore, makan tepat waktu dan nutrisi sebisa mungkin dipenuhi. Kondisinya belum benar-benar pulih, tapi sudah jauh lebih baik, Alhamdlillah.

Satu hal penting, jangan biarkan pikiran negatif menguasai diri saat kondisi tubuh sedang lemah. Saat baik-baik saja pun, usahakan untuk selalu menjaga pikiran positif dan jauhi penyakit hati. Jauhkan diri dari hasad, iri, dengki, curiga dan prasangka. Karena sebagian saja dari prasangka, bisa jadi sumber dosa.

Insya Allah, selama belum saatnya kembali, sakit apapun bisa sembuh dengan izinNya. Termasuk saat gejala Covid, jangan panik. Lebih baik siapkan imun sejak saat ini. Jika sudah terjadi, terima sebagai sarana mendekatkan diri padaNya, lalu penuhi nutrisi tanpa tapi. Semangat, ya…

  • Share:

You Might Also Like

0 comments