Review Jalan Cinta Para Pejuang

By Dunia Kifa - September 05, 2021

 

 

Jalan-cinta-para-pejuang

Cinta, adalah satu kata yang tiada habis kalimat membahasnya, tiada sempurna puisi mengejewantahkannya, juga tidak selesai para pujangga menerangkannya dalam karya. Kita mungkin akrab dengan kisah cinta Laila-majnun, Romeo-juliet, hingga kisah romansa para artis ibukota. Sebuah penjelasan berbeda tentang cinta, bisa kita temui di Jalan Cinta Para Pejuang.

Kita mungkin maklum mendapati cinta yang mendayu, mengikis habis rasa hingga melahirkan puisi sebagai representasi isi jiwa. Tapi buku ini berbeda, penulis ingin mengabadikan sisi lain cinta, dimana ia hidup, bersahabat, bermanfaat, kuat. Buku ini membahas cinta yang gempita, yang menggema, yang membebaskan. Tentang cinta yang suci, segar, menggugah, yang mengubah. Inilah jalan cinta para pejuang.

Review Novel Janji Tere Liye

Tiga Langkah dan Empat Tapak

Buku ini terdiri dari tiga langkah, dan langkah ketiga dibagi menjadi empat tapak. Di langkah pertama, Dari Dulu Beginilah Cinta. Dimana pembaca diajak menelusuri akar sesat pikir dalam cinta yang menyengsarakan jiwa.

Di langkah kedua, Dunia Kita Hari Ini, insya Allah kita kelanai bingkai jalan cinta. Ada gambaran tentang dunia yang berubah dengan cepat, dan kita di jalan cinta para pejuang harus terampil mengendarainya.

Langkah ketiga; Jalan Cinta Para Pejuang adalah inti pembicaraan buku ini, yang mengetengahkan empat matra cinta. Dimensi intelektual dipaparkan dalam Visi. Dimensi emosional diuraikan dalam Gairah. Dimensi spiritual dibicarakan dalam Nurani, dan akhirnya dimensi fisik dalam Disiplin. Hal. 9

Nurani

Cita dan tujuan selalu ada jauh di depan

Gairah dan hasrat membuatnya terasa dekat

Jikapun kemudian ia masih tampak gelap atau buram

Itu karena mata yang kita pakai untuk melihatnya terletak dalam hati

Apakah kau mendengar suaranya saat memohon untuk tak dikotori?

Percayalah, membaca buku ini tidak harus berurutan mulai halaman pertama hingga terakhir. Pembaca bisa dengan bebas memulai petualangannya dari bagian tengah, bahkan akhir dari buku ini, insya Allah tanpa perlu khawatir kehilangan hikmah yang dibawa dalam setiap penggalan bab-nya.

Review Cinta Tak Pernah Tua Benny Arnas

Jalan Cinta Para Pejuang

Dari buku ini, saya belajar tentang definisi cinta sejati, yang ternyata bukan sekedar ungkapan sehidup semati, tapi sehidup sesurga. Alangkah indah jika cinta kita tak berhenti di dunia, tapi berlanjut hingga surgaNya. Saya belajar bahwa cinta bukan sekedar ungkapan sayang, sentuhan, bahkan pelukan.

Karena tatapan mata -adakalanya- cukup menentramkan. Satu hal yang paling penting, tapak pertama adanya cinta bukanlah ungkapan cinta itu sendiri. Bukan lagi deklarasi “I love you”, atau “Aku sayang kamu”, lalu sah sebagai sepasang kekasih, bukan. Tapak cinta pertama dimulai dari: komitmen. Tanpa komitmen, ikatan yang menggetarkan arsy, cinta hanyalah seperi uap yang bisa menghilang kapan saja.

Baik, tidak elok jika saya menjabarkan isi buku ini dengan penafsiran sendiri. Mungkin benar, tidak ada karya yang sempurna, kecuali Al Qur’an yang merupakan kalam Sang pemilik semesta. Tapi buku ini, dengan ketidaksempurnaannya, cukup mampu memberi bekal kepada pembaca bagaimana mengidentifikasi dan menyikapi rasa cinta, sebagai fitrah manusia.

Catatan perjalanan: Gunung Gambir Jember

Membaca buku Jalan Cinta Para Pejuang menuntut saya untuk belajar lebih banyak lagi tentang cinta yang tidak memabukkan, justru menuntun pada keimanan. Sungguh, buku ini tidak mengobati dahaga akan ilmu. Justru bertindak seperti air laut, yang jika diminum akan semakin membuat haus. Maka berhati-hatilah, dan bersiaplah untuk meniti jalan cinta para pejuang.

Finansial: Rekening bank terbaik untuk umat Islam di Indonesia

Judul                     : Jalan Cinta Para Pejuang

Penulis                 : Salim A. Fillah

Penerbit                : Pro U Media

Tahun Terbit         : 2008

Ukuran                 : 344 hlm; 14 x 20 cm

Harga                    : Lupa, < 60.000 sepertinya pas diskon

  • Share:

You Might Also Like

5 comments

  1. Wah menarik ini kak kifa. Sepertinya image 'cinta' yg biasanya terlalu duniawi dikupas dari sisi yang lebih indah dan elegan di buku ini, ya? Jadi tertarik baca

    ReplyDelete
  2. Yuk kak Ilma, baca besok kalau pulang ke tanah air ;-)

    ReplyDelete
  3. Salah satu buku favorit dari penulis favorit juga.

    Btw kak Kif....tulisannya kecil-kecil sekali, mata tua Bunda meronta-ronta :)

    ReplyDelete
  4. Cover bukunya beda sama yang pernah saya baca, ini edisi terbaru yah kak?

    ReplyDelete