Profil Juara 1 Tahfidz PORSENI 2022 Kab Jombang: Kanza El Baroroh

By Dunia Kifa - January 05, 2022

Juara 1 porseni tahfidz jombang 2022
 

 

Kanza El Baroroh, kami  biasa memanggilnya Caca, berhasil meraih Juara 1 Lomba Tahfidz dalam ajang PORSENI Kab. Jombang Tahun 2022. Artinya, Caca berhak maju ke ajang PORSENI Tingkat Provinsi Jawa Timur, bersama dengan perwakilan dari Kota/Kab lain se-Jawa Timur.

Siapa Caca dan bagaimana kehidupan sehari-harinya? Sosok anggun dan murah senyum ini sebenarnya cukup pendiam. Berbeda dengan almarhumah mamanya yang memang periang. Kalau tidak ditanya, tidak akan cerita banyak. Hanya karena kami tinggal cukup dekat, jadi semoga tulisan ini bisa menceritakan sesuai aslinya.

Kelahiran Kanza

Kanza, demikian teman-teman dan gurunya biasa memanggil. Panggilan Caca hanya familiar di keluarga dekat yang biasa berinteraksi dengannya, adalah Putri bungsu dari Bpk. Taufik dan Almh. Ibu Ida Kholidah. Keluarga besar mamanya adalah pengasuh PKBM, TPQ, dan Pondok Tahfidz Syubbanul Khoir yang berada di desa Pojok Kulon, Kec. Kesamben, Kab. Jombang.

Caca lahir pada akhir Oktober 2009, saat ini duduk di kelas 6 MI Muhammadiyah Pojok Kulon, Kab. Jombang, Jawa Timur. Dalam keluarganya, Caca adalah anak bungsu sekaligus satu-satunya putri. Keempat kakaknya adalah lelaki, yang jarak usianya cukup jauh.

Kakak pertama dan keduanya sekarang sedang menyelesaikan studi tingkat sarjana. Kakak ketiga dan keempatnya belajar di Pondok Pesantren Al Amin Prenduan, Madura. Mamanya, Qodarullah meninggal sekitar 3 tahun yang lalu setelah sakit. Kini Caca tinggal bersama papa dan keluarga besar mamanya di Pojok Kulon.

Profil Keluarga

Sebaik-baik tempat tumbuh adalah keluarga yang baik. Dulu ketika masih hidup, mamanya adalah salah satu tokoh penggerak dakwah di desa ini. Melalui kendaraan organisasi bernama Aisyiyah dan Salimah, berbagai acara pengajian rutin diselenggarakan. Beberapa bahkan masih berjalan hingga sekarang.

Siapapun yang mengenal Bulik Ida (demikian seharusnya saya memanggil almarhumah), pasti ingat betapa beliau adalah sosok periang, suka menolong, tidak tegaan dengan kisah sedih orang lain, dan sekaligus cukup “tegas” dalam banyak hal. Bulik Ida juga yang dulu menjalankan manajemen Soungil Konveksi, untuk melayani pesanan seragam sekolah, kaos olahraga, seragam TPQ, seragam guru, atau komunitas.

Papanya, sekarang adalah Kepala Sekolah SMP Muhammadiyah 4 Kedungbetik, Jombang, sekaligus pengurus PCM Kecamatan Kesamben. Selain sosok luar biasa kedua orang tua, Caca juga lahir di tengah keluarga besar yang istiqomah berjuang di jalan dakwah. Adik-adik mamanya adalah lulusan Pondok Pesantren Gontor. Salah satunya kini menjadi Dosen di Unida.

Di rumah, Caca mendapat dukungan maksimal untuk belajar sesuai dengan minat dan bakatnya. Sejak kecil mamanya sudah membebaskan Caca belajar memasak sendiri di dapur, bahkan membiarkannya memegang mesin jahit. Saat sore tiba, ia bersama teman sebayanya belajar di TPQ yang berdiri di lingkungan rumahnya sejak kakek neneknya masih muda.

Proses Menjadi Juara Tahfidz Tingkat Kabupaten

Sepeninggal mamanya di usia yang sangat belia, Caca harus menguasai dirinya sendiri untuk menerima takdir. Ia percaya, bahwa takdir tak pernah salah. Allah selalu mengatur kehidupan setiap hamba dengan sangat sempurna.

Kanza el baroroh juara porseni tahfidz


Sebulan dua bulan, tentu tidak mudah bagi gadis seusianya untuk menyesuaikan diri hidup tanpa pendampingan seorang ibu. Seiring waktu, luka kehilangan itu sembuh. Ia paham bahwa dunia hanya tempat mampir. Kelak di akhirat, semoga Allah kumpulkan mereka kembali sekeluarga dalam keadaan yang lebih baik dan abadi.

Saat kecil Caca tidak terbiasa mengikuti lomba. Apalagi saat masih TK, ia adalah gadis moody yang sudah bisa mengatur keinginannya sendiri. Mau sekolah ya berangkat, kalau enggak ya dipaksa pun nggak akan ada yang bisa mengaturnya.

Saya pribadi tahu sosok peraih Juara 1 Porseni Kabupaten Jombang ini sejak kecil, karena saat itu kedua kakaknya yang kini di Pondok masih SDIT dan berangkat-pulang bareng saya yang juga mengajar di sana. Jadi selama itu, tiap hari kami bertemu. Posisinya sebagai satu-satunya saudara perempuan cukup membuatnya mendapat perlakuan berbeda dengan kakak-kakaknya.

Ya, Caca istimewa sejak kecil. Sebagai satu-satunya putri, Almh.Bulik Ida mengenalkan padanya pekerjaan perempuan sejak belia. Caca sendiri memang lebih suka menenggelamkan diri di tempat mamanya bekerja daripada bermain di luar rumah dengan teman sebayanya.

Sekarang, setelah “selesai” dengan rasa sedihnya karena ditinggal sang mama, dia mulai percaya diri dan mau mengikuti lomba. Akhir Desember 2021 kemarin Caca berhasil memenangkan juara 1 lomba tahfidz PORSENI tingkat Kecamatan Kesamben dan maju di tingkat kabupaten. Setelah memenangkan tingkat kabupaten kali ini, berarti dia harus bersiap maju ke lomba tingkat provinsi.

Hafalan adalah salah satu prestasi yang terus ditekuninya saat ini. Di  luar sekolah, setiap sore ia harus menyetor tambahan hafalan Al Qur’an dan mengulangnya, dipandu oleh guru yang juga tantenya di rumah. Kakak pertamanya yang kini sudah menyelesaikan hafalan 30 Juz juga menjadi motivasi tersendiri untuknya menjadi seorang hafidzah.

Sebelum mengikuti lomba, Caca berlatih lebih keras setiap hari. Menghafal ayat demi ayat, mengulang yang terlupa. Di sekolah ada guru pendamping khusus yang melatihnya menerima berbagai pertanyaan seputar hafalan. Di rumah, ilmu tajwidnya diperkuat. Setiap hari, ia sendiri harus mengulang sejumlah hafalan agar tidak hilang.

Mereka ingin kelak di akhirat mampu memberikan mahkota kebanggaan, yang hanya diperoleh para penghafal Qur’an, terutama untuk mamanya. Mohon doa ya, semoga kakak beradik ini istiqomah menjadi penjaga Al Qur’an, dan Caca mendapat kemudahan untuk maju ke tingkat provinsi.

Hobi dan Cita-Cita

Selain harus menambah dan menjaga hafalan, Caca memiliki sejumlah hobi di rumah. Keberadaan mesin jahit yang masih beroperasi dalam penjagaan nenek dan beberapa karyawan sering menarik hatinya. Beberapa pakaiannya adalah hasil karya tangannya sendiri.

Perkara memasak, jangan ditanya. Pernah suatu hari neneknya mendapat giliran mengaji bersama ibu-ibu di rumah. Sudah menjadi tradisi, akan ada beberapa suguhan makanan yang disajikan. Neneknya Caca adalah orang yang lebih suka membuat makanan sendiri daripada membeli. Melihat neneknya repot, Caca menawarkan menyelesaikan salah satu jenis makanan itu sendiri. Mulai dari membuat adonan, mencetak, hingga mengemasnya. Ingat, dia baru kelas 6 MI, bukan wanita dewasa.

Caca yang dulu cerewet dan mudah sekali ngambek jika tidak sesuai keinginannya, kini sudah jauh lebih dewasa melampaui usia. Benar, tidak ada takdir yang salah. Yang ada hanyalah manusia yang seringkali tidak mampu menerima dan menjalani takdir dengan sebaik-baik ketentuanNya.

Pernah saya bertanya tentang cita-citanya saat Ramadhan tahun kemarin tarawih bersama. Ia menjawab belum tahu. Satu hal yang pasti, setelah lulus dari MI Muhammadiyah 11 nanti ia akan melanjutkan sekolah mengikuti jejak kakak pertamanya di Ponpes Gontor. Sebuah pilihan sekolah yang baik dari sekian lembaga terbaik di tanah air. Semoga bakat, minat, dan pribadinya menjadi semakin shalihah nanti di sana.

Prestasi juara 1 lomba tahfidz tingkat kabupaten ini adalah pengantar untuk prestasi berikutnya, insya Allah. Di depan sana, Caca akan lebih siap menghadapi berbagai perlombaan lain, dan tantangan hidup yang lebih berwarna. Mohon doa ya, semoga Allah selalu menjaganya. 

  • Share:

You Might Also Like

10 comments

  1. Aamiin. MasyaAllah Caca, best banget.

    ReplyDelete
  2. Subhanallah Caca, semoga hafalannya terjaga. Jadi malu karena sudah seumur ini tapi kesulitan buat menghafal

    ReplyDelete
  3. Barakallah Caca..keren dan menginspirasi teman-teman di ranah hafiz Alquran

    ReplyDelete
  4. masyaallah dek caca 😘 segenap doa untukmu.. semoga selalu dilindungi dan berkumpul dengan kebaikan

    ReplyDelete
  5. Masya allah, saya kagum dgn cara almh mamanya mengasuh Caca ...

    ReplyDelete
  6. MaasyaAllah.. barakallah caca. Keren sekali. Bisa dijadikan teladan ini

    ReplyDelete
  7. Terharu sekali membaca kisah dek Caca, tetap semangat untuk menghafal Al-Quran dan mengamalkannya, ya dek. Kelak amalmu dalam mencintai al-Quran akan membuat bangga semua orang.

    ReplyDelete
  8. Masya Allah anak salehah...sukses dunia akhirat ya Caca

    ReplyDelete