Toko Merah: Alternatif Saat Kota Tua Masih Tutup

By Dunia Kifa - October 19, 2021

 

toko-merah-kota-tua

Tanggal 12 Oktober 2021 kemarin, saya bersama teman dan adik sepupu merencanakan jalan-jalan ke kota tua. Selama pandemi ini memang semua wisata di Jakarta tutup. Bahkan taman yang notabene terbuka dan aman selama pengunjung jaga jarak, juga tidak dibuka. Karena sekarang PPKM sudah turun level, kami berharap kota tua bisa dikunjungi.

Masa iya sudah hampir dua tahun masih tutup? Apalagi sekarang mall, beberapa fasilitas publik seperti perpustakaan juga sudah dibuka. Sebelum berangkat, kami tidak bisa memastikan kota tua sudah bisa dikunjungi atau belum. Karena di media sosial pun tidak ada info yang kami temukan, akhirnya nekat saja berangkat.

Baca Juga: Wisata Murah Alami di Jember Jawa Timur

Ngapain Sih Ke Kota Tua?

Kota tua merupakan salah satu kawasan bersejarah yang selalu ramai pengunjung. Di kawasan ini berdiri sekumpulan gedung tua yang sebagian masih berfungsi sebagai museum, sebagian dialihfungsikan sebagai kafe, dan sebagian lain dibiarkan kosong. Kalau mau belajar sejarah ibukota, salah satu pusatnya ya di kawasan ini.

Sebelum pandemi datang dan memaksa semua fasilitas publik berhenti operasi, kawasan kota tua tidak pernah sepi. Pengunjung suka masuk ke pelataran museum fatahillah yang luas meskipun panas di siang hari. Saat sore, kawasan ini menjadi tempat asik untuk nongkrong dan menikmati berbagai hiburan.

Di sekitarnya, beberapa kafe berdiri menawarkan berbagai menu tradisional dan kebarat-baratan. Karena memang pengunjung sangat majemuk, terduru dari warga lokal maupun wsatawan asing. Saat sore menjelang, sering ada berbagai pertunjukan music, sulap, atau semacamnya.

Kota tua adalah salah satu panggung bebas bagi para pekerja seni. Tidak hanya musik, di sudut-sudut kawasan terdapat beberapa manusia silver, replika pahlawan, sepeda ontel tua, atau bidadari lengkap dengan kereta hias siap menemani pengunjung berburu foto. Ya, mereka menyediakan jasa spot foto di kawasan ini.

Baca Juga: Pantai Paseban Jember

Sepanjang jalan masuk kawasan kota tua, saat siang hingga sore hari banyak berjajar penjual aksesoris dan benda kreatif seperti kaligrafi, ukiran, atau jasa tato dan mahendi. Kalau mau cari tukang ramal pun, bisa ditemukan di kawasan ini. Mereka biasanya membawa mobil boks yang juga berfungsi sebagai ruang konsultasi.

Gedung-gedung tua yang berdiri di kawasan ini pada masa lalu adalah tempat kolonial mengendalikan pusat pemerintahan, para saudagar mengendalikan perdagangan (karena lokasinya dekat dengan pelabuhan), dan merupakan pusat hiburan. Sekarang, yang tersisa adalah berbagai museum untuk mengenang semua jejak sejarah tersebut.

Kota Tua Pasca Pandemi

Setelah hampir dua tahun melalui gelombang pandemi, kami memberanikan diri kembali berkunjung ke kawasan penuh sejarah ini. Tujuan utamanya jalan-jalan. Tujuan sampingannya adalah mengenalkan adik sepupu kepada sejarah kotanya. Maklum, dia jarang sekali jalan-jalan, apalagi sejak papanya meninggal tahun lalu.

Kawasan wisata murah meriah ini paling mudah dicapai dengan alat transportasi publik Transjakarta atau KRL Commuter Line. Keluar dari halte atau stasiun lewat terowongan penyeberangan orang, bisa langsung sampai di depan museum mandiri. Berjalan sedikit ketemu museum BI, tempat rupiah dicetak untuk pertama kali. Lanjut ke kawasan kota tua tinggal nyeberang lagi, sudah  ketemu pintu masuknya.

Sayang, saat kami sampai pintu masuk dijaga tim keamanan dan satgas Covid. Ternyata pengunjung belum boleh masuk. Kami tanya, “Sampai kapan bisa buka lagi?” petugas menjawab, “Sampai alat screening dan barcode masuk tersedia.” Berarti waktunya belum bisa dipastikan. Tidak mungkin kami menunggunya seharian di situ, kan?

Toko Merah Kota Tua

Karena tidak bisa masuk halaman museum fatahillah, kami memutar ke arah kiri dari pintu masuk. Di bagian belakang kawasan ini saat malam biasanya ramai pedagang lesehan. Mereka berjualan lampu, baju, aksesoris, makanan, dan juga berbagai alat elektronik lucu. Saat siang, tentu saja sepi karena memang panas.

Baca Juga: Warung Lodeh Mbok Semah Jombang

Karena kami datang di siang hari, layaknya pengunjung kota tua lain, tujuan yang harus dicari di setiap tempat wisata adalah foto. Maka secara otomatis, mata kami bergerilya mencari spot yang ciamik untuk bergaya. Mulai dari tepi sungai apung yang panas di siang hari, deretan kafe dan museum 3 dimensi khusus untuk foto yang tertutup, mata kami menjelajah ke jalan di seberangnya.

Di sana berjajar beberapa gedung tua yang sepertinya tidak berfungsi. Salah satunya memiliki bentuk dan warna mencolok karena berbeda dengan gedung lain. Setelah kami mendekat, terpampang jelas nama gedung ini: Toko Merah. Dindingnya berwarna merah bata, dan memang terdiri dari bata yang sengaja tidak ditutup semen seperti gedung lain di sekitarnya.

Kami mengambil beberapa foto di depan gedung ini, dan gedung lain di sekitarnya. Ya, beberapa foto dalam pengertian pengunjung wisata berarti: puluhan foto. Mumpung sepi, jadi enak ambil fotonya. Buka masker sebentar pun hanya untuk ambil foto di depan Toko Merah rasanya tidak masalah.

Setelah selesai dan puas, kami beli minum dan pulang. Sampai di rumah, saya mencoba mencari tahu tentang toko merah ini. Apakah sebuah gedung pertemuan, hotel, atau kantor di zaman dulu?

Toko Merah ini dibangun pertama kali pada tahun 1730 dan menjadi rumah Gubernur Jenderal Gustaaf Willem Baron van Imhoff dan beberapa gubernur penerusnya. Gedung ini terus beralihfungsi menjadi kampus, hotel, bank, kantor, sampai terakhir dijadikan sebagai hall untuk konferensi dan pameran.

Selain fungsinya yang terus berganti, ada banyak cerita horror yang beredar di masyarakat sekitar tentang gedung berwarna merah ini. Menjelang abad 18 pernah ada peristiwa Geger Pecinan yang menimbulkan banyak korban dari bangsa Tionghoa di Batavia. Tempat pembantaian mereka dikabarkan berada di sekitar toko merah ini.

Sampai sekarang, tidak sedikit warga sekitar yang pernah mengalami kejadian mistis di sekitar Toko Merah. Ada yang pernah melihat wanita bergaun panjang di dalamnya, mendengar teriakan histeris dan tangisan, atau suara tentara-tentara tempo dulu.

Setelah membaca cerita ini, kami bersyukur telah mengunjungi Toko Merah Kota Tua di siang hari, pun hanya di luarnya saja. Entah apa yang terjadi jika kami masuk tanpa ada petugas keamanan atau petunjuk yangbisa menyelamatkan jika terjadi sesuatu di dalamnya.

  • Share:

You Might Also Like

2 comments

  1. Waaah seruuu JJS (jalan-jalan seram) nya mba Saki.

    ReplyDelete
  2. Deg-degan baca endingnya duh... Untung tahunya di rumah ya kak 😆

    ReplyDelete